RINGKASAN BUKU BIOGRAFI

Maret 17, 2018


Judul Buku            : Prof.H.Muhammad Yamin S.H
Pengarang             : Sutrisno Kutoyo
Penerbit                 : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta
Jumlah Halaman   :  136
Ringkasan             :
           
            Muhammad Yamin lahir di Sawahlunto, 23 Agustus 1903 tepat pada pukul 24.00 pada hari Kamis. Ayahnya bernama Usman Gelar Bagindo Khatib yang semasa hidupnya bekerja sebagai mantri kopi. Ibunya bernama Siti Sa’adah yang berasal dari Padang Panjang. Muhammad Yamin menikah dengan wanita jawa bernama Raden Ajeng Sundari Merto Amodjo tahun 1934. Beliau dikaruniai seorang putra bernama Dang Rahadian Sinajangsih Yamin.
            Beliau bersekolah di Sekolah Dasar Bumi Putra Angka II. Kemudian melanjutkan ke Algemene Middelbare School (AMS) bagian AI, jurusan Oostrech Letterkundige Afdeling, sekarang sama dengan SMA jurusan Budaya di Surakarta. Kemudian beliau pergi ke Jakarta dan masuk Sekolah Tinggi Hukum tahun 1927 dan mendapat gelar Meester in de rechten.
Beliau bertemu dengan Siti Sundari, istrinya di Yogyakarta ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum (RIS). Siti Sundari sendiri berasal dari Semarang yang saat itu sedang menjadi guru. Keduanya bertemu ketika diadakan pertemuan Panitia Besar Pembentukan Perhimpunan Indonesia Muda pada tahun 1928 di Yogyakarta.Keduanya saling mencintai kemudian menikah.
Beliau aktif dalam organisasi pemuda daerah yaitu dalam Jong Soematranen Bond. M. Yamin terpilih sebagai pemimpin dan pengurus Jong Soematranen Bond. Bagi M. Yamin organisasi ini adalah tempat ia mula-mula bergerak dalam dunia perjuangan kepemudaan dan kebangsaan. Beliau merupakan tenaga pimpinan yang aktif dalam organisasi ini. Saat menyongsong Kongres pemuda 1, M. Yamin juga menjadi anggota Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang berdiri pada September 1926. Dalam organisasi ini, beliau juga menjadi salah seorang tokohnya. Dalam Kongres Pemuda 1, M. Yamin telah mampu memberikan gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan hari depan bahasa Indonesia dan kesasteraannya. Namun, ternyata Kongres Pemuda 1 tidak dapat berjalan sesuai dengan harapan. Keadaan antara tahun 1926-1928. Perjuangan pemuda antara tahun 1926-1928 berjalan dengan sangat cepat. Muhammad Yamin telah menamatkan sekolahnya di  AMS Surakarta dan pindah ke Jakarta menjadi mahasiswa RHS. Kemudian Muhammad Yamin menjadi pemegang peran utama dalam Kongres Pemuda 2. Muhammad Yamin amat tertarik pada hukum, sastra, dan kebudayaan. Menuju Kongres Pemuda 2, Muhammad Yamin terpilih menjadi Sekertaris Panitia. Muhammad Yamin mengirim surat pada Taher Marah Sutan di Padang untuk meminta biaya Kongres Pemuda. Dalam Kongres Pemuda, Muhammad Yamin memainkan peranan yang besar. Beliau bekerja pada tingkat persiapan sebelum rapat-rapat dimulai. Beliau juga memberi pidato yang merupakan inti dari Kongres Pemuda 2 kemudian beliau melaksanakan keputusan-keputusan dan akibat-akibat dari Kongres tersebut. Beliau juga sebagai penerjemah pidato-pidato yang masih dalam bahasa Belanda. Dalam Kongres ini, beliau mengucapkan pidato yang penting. Pidatonya mencapai nilai yang tingggi dan merupakan salah satu pidato yang brillyan dari pidato-pidato pemimpin Indonesia lainnya yang dikenal dalam sejarah Indonesia. Pidato tersebut berjudul “Persatuan Kebangsaan Indonesia”.
            Muhammad Yamin sudah aktif berjuang di lapangan politik-praktis sejak muda. Beliau terlihat angkuh, karena ia percaya pada integritas dirinya sendiri. Kegiatan politiknya dimulai saat beliau bergabung pada Partindo (Partai Indonesia). Pada bulan November 1936 Partindo terpaksa dibubarkan. Pada tanggal 24 Mei 1937 di Jakarta, Muhammad Yamin beserta beberapa temannya mendirikan partai baru, yaitu Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Muhammad Yamin juga termasuk salah seorang pemimpinnya. Muhammad Yamin pribadi, malahan diandalkan sebagai pemimpin yang mampu menjamin adanya watak keras pada tubuh Partai Gerindo itu. Muhammad Yamin memiliki banyak lawan karena kata-katanya tajam dan penanya runcing. Beliau juga memiliki sifat meremehkan dan merendahkan pendapat orang,sehingga ia dipandang berwatak angkuh dan sombong. Muhammad Yaminpernah bertentangan paham dengan pengurus Gerindo lainnya. Ia pernah menyetujui usul-usuldan keinginan beberapa golongan masyarakat Minangkabau yang memintanya untuk duduk dalam Dewan Rakyat pada zaman Hindia Belanda sebagai wakil mereka. Padahal, antara golongan masyarakat Minangkabau itu dengan Gerindo tidak ada perjanjian apapun. Sehingga beliau dipecat dari Gerindo. Pada tanggal 21 Juli 1939 beliau mendirikan partai politik lain,yaitu “Partai Persatuan Indonesia (Parpindo)”. Dalam partai ini beliau duduk dalam wakil Parpindo. Tindakannya membuat beberapa pihak mengatakan Muhammad Yamin adalah “pemecah belah abadi” atau “pemecah belah” yang dipandang sebagai pemecah dalam Fraksi Nasional di Dewan Rakyat. Beliau juga dijuluki “perusak aturan permainan” oleh lingkungan Gapi (Gabungan Politik Indonesia), karena ia telah memajukan suatu petisi untuk membentuk suatu parlemen di luar kemauan Gapi.
            Pada saat Jepang mulai menjajah, Muhammad Yamin harus bekerja sama dengan Jepang,walaupun itu hanya merupakan cara untuk mengelabui mata pembesar-pembesar Jepang . Muhammad Yamin duduk sebagai anggota Dewan Penasehat Putera. Pemimpin-pemimpin Indonesia yang duduk dalam Putera, termasuk Muhammad Yamin, justru memakai Putera untuk mempersiapkan rakyat Indonesia menyongsong kemerdekaan. Muhammad Yamin diserahi jabatan sanyo untuk Sendenbu (Departemen Propaganda). Muhammad Yamin juga termasuk anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan. Badan ini melakukan sidang sebanyak 2kali. Dalam Sidang 1 Muhammad Yamin telah mengucapkan pidatonya, tepatnya pada tanggal 29 Mei 1945, dengan judul “Asas dan Dasar Negara Republik Indonesia”. Muhammad Yamin merumuskan beberapa pokok,yaitu:
I.                    Peri Kebangsaan
II.                  Peri Kemanusiaan
III.                Peri Ketuhanan
IV.                Peri Kerakyatan
A.      Permusyawaratan
B.      Perwakilan
C.      Kebijaksanaan
1.      Faham Negara Indonesia
2.      Pembelaan
3.      Budi Negara
V.                  Kesejahteraan Rakyat
           
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Muhammad Yamin yakin bahwa dengan menghimpun kekuatan seluruh rakyat, Indonesia akan sanggup mendesak penjajah Belanda dengan kekuatan senjata, sehingga Belanda dapat keluar dari pantai-pantai tanah air kita. Peranan Muhammad Yamin dalam peristiwa penculikan Sutan Sjahrir itu cukup menarik. Pada tanggal 1 Juli 1946, ia berhasil membuka pintu tahanan sel-sel tahanan politikdan melepaskan para tawanan politik. Sesudah itu ia menuju Woyoro, dekat Yogyakarta. Pada tanggal 2 Juli 1946, Muhammad Yamin membuat empat naskah yang berisi usul agar Kabinet Sutan Sjahrir diberhentikan dan diganti dengan kabinet lain. Keesokan harinya ia bersama dengan tawanan politik menghadap Presiden Soekarno dan mengajukan empat usul tersebut. Tetapi yang berwajib memandang perlu untuk menahan Muhammad Yamin dengan tuduhan melakukan coup d’etat. Sejak 3 Juli 1946  Muhammad Yamin ditahan. Beliau ditahan selama kurang lebih 2 tahun. Dalam sejarah kita, peristiwa ini dikenal dengan nama peristiwa 3 Juli 1946. Menurut putusan Mahkamah, Mr. Muhammad Yamin dipersalahkan melakukan kejahatan memimpin percobaan untuk merobohkan pemerintahan yang sah, dan dijatuhi hukuman 4 tahun penjara.Tapi beberapa bulan kemudian, ia mendapat grasi, dan pada tanggal 17 Agustus 1948 beliau telah dibebaskan. Pada tahun 1949  Muhammad Yamin diangkat sebagai Penasehat Delegasi Republik Indonesia ke KMB di Negeri Belanda. Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1950, Muhammad Yamin diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Ketika Muhammad Yamin diangkat menjadi Menteri Kehakiman, tindakannya yang pertama ialah membebaskan Chairul Saleh dari penjara.Hal  ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Karena itulah beliau terpaksa melepaskan kedudukannya sebagai Menteri Kehakiman.
Sesudah melepaskan jabatan Menteri Kehakiman, Muhammad Yamin ditawari jabatan sebagai Duta Besar RI, tetapi ia menolak dan kembali menjadi anggota parlemen lagi. Antara tahun 952-1953 Muhammad Yamin menjadi Pimpinan Suratkabar “Mimbar Indonesia”. Dari bulan Juli 1953 sampai bulan Juli 1955, Muhammad Yamin menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (P dan K). Salah satu hasil karya Muhammad Yamin sebagai menteri PPK adalah didirikannya Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang kelak kemudian tumbuh menjadi Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan (IKIP). Muhammad Yamin berkeinginan sekali untuk menjadi pusat perhatian orang terus menerus. Sebagai seorang politikus dan pembina bangsa, ia ingin meninggalkan nama baik yang selalu dikenang orang dalam sejarah pendidikan di Indonesia.
Sewaktu Muhammad Yamin menjabat Menteri PP dan K berlagsunglah Konperasi Asia-Afrika 1 di Bandung. Muhammad Yamin menjadi Ketua Delegasi Indonesia untuk urusan pengajaran, sosial dan kebudayaan. Oleh para anggota Konperensi Asia-Afrika di Bandung Muhammad Yamin dipilih sebagai Ketua Panitia Kebudayaan.Pada tanggal 10 Juli 1958, Muhammad Yamin diangkat menjadi Mentri Sosial dalam Kabinet Kerja. Lalu menjadi Menteri Inti Urusan Khusus dalam Kabinet Kerja. Pada tanggal 18 Februari 1960 beliau menjadi Menteri dalam Kabinet Inti (Ketua Dewan Perancang Nasional dengan SK Presiden No. 21/1960). Pada tanggal 24 Desember 1958 beliau menerima tanda jasa tertinggi Yugoslavia “Star of the Yugaslafia Flag” Klas 1 untuk urusan luar negeri dan kebudayaan.
Ketika berkunjung ke Jepang selama dua minggu Muhammad Yamin mempergunakan kesempatan itu untuk mempelajari perkembangan-perkembangan pembangunan yang sedang di kerjakan di negara tersebut. Hasil penyelidikannya merupakan bahan-bahan penting penyempurnaan rancangan dasar undang-undang pembangunan semesta. Tanggal 21 Agustus 1961, Muhammad Yamin dilantik menjadi penasehat ex officio Lembaga Pembinaan Hukum Nasional. Pada tanggal 11 Desember 1961, beliau diangkat menjadi anggota Dewan Pertahanan Nasional. Pada tanggal 18 Maret 1962, beliau dilantik menjadi Wakil Menteri Pertama sebagai Koordinator pada Bidang Khusus Menteri Penerangan/Ketua Dewan Depernas dalam pimpinan Lembaga-Lembaga Negara. Pada tanggal 31 April 1962, beliau dinagkat menjadi anggota staf 1 Pembantu Presiden/Panglima Tertinggi, Komando tertinggi Operasi Ekonomi seluruh Indonesia.
Muhammad Yamin mendapat Bintang Maha-Putera RI dan tanda penghargaan dari CPM sebagai pencipta lambang Gajah Mada. Pada tanggal 17 Oktober 1962, Muhammad Yamin berpulang ke rakhmatullah. Sebelum meninggal dunia Muhammad Yamin berpesan agar jenazahnya dikuburkan di samping kuburan ayahandanya, Usman gelar Bagindo Khatib di Talawi, tempat kelahiran dan kampung halamannya. Pada hari Sabtu tanggal 20 Oktober 1962 pukul 12.00 jenazah Prof Haji Muhammad Yamin S.H dikebumikan di Pemakaman Pudingsawah Tapian yang terletak di Talawi.
Jabatan terakhir yang dipegang Muhammad yamin ialah Wakil Pertama (Wampa), Urusan Khusus Menteri Penerangan.


KESIMPULAN:
Muhammad Yamin merupakan seorang tokoh yang gigih dan rajin, tekun berstudi dan belajar sepanjang hidupnya. Muhammad Yamin telah mencapai puncak pengabdiannya dalam kedudukannya sebagai menteri dalam berbagai kabinet dari negara dan bangsa Indonesia. Muhammad Yamin sendiri mempunyai pendirian yang teguh. Muhammad Yamin mempunyai banyak lawan, karena sikapnya yang cenderung meremehkan dan merendahkan pendapat orang, sehingga ia dipandang berwatak angkuh dan sombong. Namun,beliau merupakan tokoh yang tidak berpartai yang diperlukan tenaga dan pemikirannya untuk Bangsa dan Tanah air sejak tahun 1950-an. Bahkan banyak orang Indonesia yang membanggakan kecerdasan otaknya, buah karya, hasil penanya tentang berbagai ilmu pengetahuan, sastra, budaya, dan kemasyarakatan yang banyak jumlahnya.
 


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images